Apa itu Hipertensi? Bagaimana Gejala, Faktor Risiko dan Pencegahannya?
Kanal-kesehatan.com – Seorang ibu usia 45 tahun tampak normal dan terlihat seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya yang aktif mengurus rumah tangga. Suatu hari Si Ibu tiba-tiba terjatuh di kamar mandi dan kemudian didiagnosa dengan pecah pembuluh darah otak. Setelah mendapat penanganan intensif selama sekitar tiga hari di rumah sakit, si ibu meninggal dunia, meninggalkan seorang ibu usia 73 tahun yang sedang dirawatnya di rumah selama ini.
Berbagai opini tetangga kemudian berkembang dan berbagai perkataan terlontarkan, “Yang sakit ibunya yang meninggal anaknya,” atau “Sebenarnya dia sudah ada hipertensi tapi tidak dirasa,” bahkan, “Masih muda loh padahal sudah darah tinggi,”
Ya, berbagai opini tentang hipertensi tersebut mungkin akrab di telinga, sayangnya jarang ada yang mau mengenal lebih dekat apa sebenarnya hipertensi itu, apa penyebab dan bagaimana pencegahannya?
Apa itu Hipertensi?
Hipertensi atau Darah Tinggi adalah suatu kondisi medis di mana tekanan darah dalam arteri (pembuluh darah) meningkat melebihi batas normal secara konsisten.
Berapa batas Normalnya? Targetnya adalah dibawah 140/90, “Tapi kalau dia ada diabetes terus kemudian dia ada faktor resiko lain sakit jantung maka lebih rendah tergetnya menjadi 130/80,” ungkap Dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP(K), Ph.D, FIHA, FAsCC, FJCS Ketua Umum Perki Indonesia (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) yang merupakan asosiasi profesional untuk para dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di Indonesia.
Sistolik dan Diastolik
Mari mengenal angka tekanan darah yang diwakilkan dengan tanda miring atau “per’ diantara kedua nilai angka. Umumnya tekanan darah akan dibaca 120/80 (seratur dua puluh per delapan puluh) dengan penjelasan sebagai berikut :
- Angka Atas yaitu 120, angka sistolik yang merupakan tekanan dalam arteri saat otot jantung berkontraksi dan memompa darah ke seluruh tubuh.
- Angka Bawah yaitu 80, angka Diastolik yaitu tekanan dalam arteri ketika jantung berelaksasi (mengisi darah) di antara detak jantung. Biasa juga disebut saat jantung istirahat.
Diagnosa Hipertensi
Dikatakan tensi darah tinggi jika hasil pengukuran sistolik lebih dari 140 mmHg dan/atau diastolik lebih dari 90 mmHg, dengan catatan diagnosa ditegakkan oleh Dokter setelah dilakukan beberapa kali pengukuran.
“Kalau kita punya tekanan darah lebih dari 140/90 itu dikatakan hipertensi,” Ungkap Ketua Perki Indonesia yang akrab disapa dokter Adem. Lebih lanjut lulusan kedokteran Universitas Indonesia ini mengingatkan kita untuk behati-hati saat melakukan pengurukuran tensi darah. Lakukan dengan duduk dan tenang. Sebab jika habis beraktivitas terlebih sesaat setelah berolah raga sudah pasti tensi akan tinggi. “Jadi dia harus kita cek lagi nih, oke coba deh lifestyle-nya berubah dulu misalnya nanti datang untuk cek lagi. Jadi enggak harus satu kali pengukuran,”
Sebab ada pula istilah White Coat Hipetention yang bawaannya takut ketemu dokter yang menyebabkan tensi menjadi tinggi, padahal kalau di rumah tensinya normal. Hingga ada pula pengecekan tensi 24 jam dengan alat ABPM (Ambulatory Blood Pressure Monitoring) yang tujuannya untuk mendapatkan gambaran akurat tentang fluktuasi tekanan darah pasien dalam aktivitas selama 24 jam.
Hindari self diagnosis atau diagnosa mandiri, mengidentifikasi dan menyimpulkankondisi kesehatan diri sendiri baik fisik maupun mental tanpa berkonsultasi dengan profesional. Self diagnosis ini sangat berbahaya jika tidak memiliki ilmu berkaitan, sebab akan berdapak pada tindakan mengobatan selanjutnya. Alat ukur tekanan darah yang mudah kita dapatkan hanya membantu memantau bukan sebagai alat diagnosa mandiri.
Penyebab Hipertensi
Berdasarkan penyebabnya, kondisi hipertensi dikategorikan dalam dua keadaa, yakni Hipertensi Primer yang umum terjadi dan berkembang secara bertahap tanpa penyebab yang jelas. Faktor keturunan disinyalir menjadi penyebab utamanya. Selain itu ada juga Hipertensi Sekunder yaitu kondisi hipertensi yang disebabkan oleh kondisi medis lain yang diderita. Beberapa penyebabnya antara lain, Penyakit ginjal, Gangguan hormonal atau penyakit tiroid , Penggunaan obat-obatan tertentu, kegemukan, serta Kehamilan (hipertensi dalam kehamilan).

Tingkatan Hipertensi
Tingkat keparahan hipertensi dikategorikan berdasarkan bacaan tekanan darah:
- Prehipertensi yaitu kondisi sebelum tekanan darah menjadi tinggi.
- Hipertensi Stage 1, nilai angka tekanan darah antara 130/80 mmHg dan 139/89 mmHg.
- Hipertensi Stage 2, nilai angka tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih tinggi.
- Krisis Hipertensi: Kondisi tekanan darah yang sangat tinggi, yaitu 180/120 mmHg atau lebih. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera, terutama jika disertai gejala seperti nyeri dada, sesak napas, atau pusing.
Gejala Hipertensi
Hipertensi sering disebut sebagai “silent killer” karena seringkali tidak menunjukkan gejala yang jelas. Namun demikian pada laman website badan kesehatan dunia, beberapa kondisi berikut dapat diwaspadai sebagai gejala hipertensi.
- Sakit kepala parah
- Nyeri dada
- Pusing
- Kesulitan bernafas
- Mual
- Muntah
- Penglihatan kabur atau perubahan penglihatan lainnya
- Kecemasan
- Kebingungan
- Berdengung di telinga
- Mimisan
- Irama jantung yang tidak normal
Faktor Risiko Hipertensi
Berikut beberapa faktor yang berisiko dapat terkena penyakit hipertensi. Secara umum ada dua yaitu Faktor risiko yang dapat diubah dan Faktor risiko yang tidak dapat diubah.
Faktor Risiko yang tidak dapat diubah adalah
Usia
Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah 65 tahun.
Riwayat keluarga (genetik)
Sifat genetik dapat diturunkan dari generasi ke generasi pada keluarga yang menderita hipertensi
Jenis kelamin
Beberapa penelitian menunjukkan laki-laki memiliki risiko lebih tinggi.
Kondisi medis lain
Memiliki kondisi seperti diabetes, sleep apnea, atau penyakit ginjal dapat meningkatkan risiko.
Kehamilan
Kondisi kehamilan tertentu juga bisa menjadi faktor risiko.
Faktor Risiko yang dapat diubah
Rokok
Nikotin menyebabkan pembuluh darah arteri menyempit dan meningkatkan tekanan darah.
Alkohol
Dapat merusak dinding pembuluh darah arteri dan meningkatkan risiko hipertensi.
Obesitas
Berat badan berlebih, semakin banyak darah yang dibutuhkan hal itu membuat jantung bekerja lebih berat dan tekanan pada dinding arteri meningkat.
Stres
Stres berat dan jangka panjang dapat meningkatkan tekanan darah.
Malas Gerak
Kebiasaan sedentaru kurang bergerak dan olahraga membuat detak jantung saat istirahat lebih tinggi, sehingga jantung bekerja lebih keras.
Diet tidak sehat
Konsumsi garam dan lemak berlebih dapat meningkatkan volume darah dan tekanan pada arteri.
Kekurangan kalium
Kalium membantu mengatur kadar garam di tubuh. Itulah sebabnya Dr Abidinsyah Siregar dalam bincang radio bersama Radio Smart FM, menyarankan untuk mengkonsumsi pisang satu buah/hari guna menjaga kadar kalium yang salah satu fungsinya baik untuk kesehatan pembuluh darah.

Perubahan Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi. Segera perhatikan makan. Mulailah makan makanan sehat yang mengandung cukup serat, protein, karbohidrat dengan rendah garam. Secara global, WHO merekomendasikan batas konsumsi natrium kurang dari 2.000 mg per hari, yang setara dengan kurang dari 5 gram atau 1 sendok teh garam per hari. Takaran ini dapat disesuaikan jika sudah terdiagnosa hipertensi. Lalu upayakan memiliki berat badan pada batas yang ideal. Jauhi kasur dan handphone dan mualilah aktif secara fisik, kaum rebahan harus waspada serta yang paling membantu adalah berhenti merokok.
Target tekanan darah yang harus dicapai adalah kurang dari 130/80 jika sudah memiliki penyakit kardiovaskular (penyakit jantung atau stroke), diabetes (gula darah tinggi), penyakit ginjal kronis. risiko tinggi terhadap penyakit kardiovaskular.
Jadilah manager untuk diri sendiri, dengan memantau kesehatan sendiri. Lakukan medical check up secara berkala untuk mengetahuinya. Pesan dr Ade adalah jangan takut melakukan medical check up, sebab semakin cepat diketahui semakina cepat diobati, “Saya harus bilang, mencegah itu lebih baik dari pada mengobati. Ini klise tapi benar. Pasien takut medical check up karena takut ketahuan penyakitnya. Justru salah, kalau ketahuan lebih dini ngobatinnya lebih gampang. Apalagi kalau punya faktor risiko, check up lebih cepat lebih baik.”
Penulis
Dasuciana
Referensi https://who.int/ https://kemkes.go.id/ Youtube Radio Smart FM Youtube Tirta Peng Peng Peng





