Komitmen Perubahan Harus Berdampak Outcome dan Benefit Kesejahteraan
Dr.Abidin Ketum OBKESINDO (berkomitmen mendorong Outcome). Sekretaris Jenderal Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI).
Semangat Awal Tahun Menuju Era Indonesia Emas 2045
“Komitmen Perubahan Harus Berdampak Outcome Dan Benefit Kesejahteraan”
Sebanyak 17.504 Pulau membentuk Indonesia, dengan ratusan suku dan bahasa, sungguh karunia Tuhan dan kodrat kebersamaan. Ketika pendiri Republik menemukan sesanti “Bhinneka Tunggal Ika” sungguh tepat bahkan menakjubkan dunia.
Banyak keinginan banyak program dan impian. Untuk mendapat satu pilihan tepat tentu tidak instan, apalagi pemaksaan. Keputusan yang terbaik, memenuhi semua keinginan dan harapan, serta mudah diwujudkan secara bersama, tentu butuh waktu, sabar dan kecerdasan.
Jika ada kepentingan/interest personal atau lembaga, sekecil apapun itu, walaupun geserannya sedikit tetapi ujungnya penyimpangan yang lebar. Karenanya, sebuah kesepakatan harus dimulai dengan meletakkan kepentingan masing-masing dibawah kepentingan bersama.
Tugas kearifan adalah menemukan SATU pilihan cara yang membuat SEMUA bisa mendapat manfaat secara adil, berkelanjutan dan menyeluruh.
Belum selesai sampai disitu. Dalam urusan kehidupan bernegara, urusannya adalah pewujudan cita-cita Kemerdekaan, Merdeka dari semua ketidakmerdekaan, yang didalamnya termasuk hidup sehat, terdidik, bekerja, sejahtera dan beragama.
Untuk itu perlu dan sangat perlu Komitmen.
Komitmen membuat taat pada skema pencapaian tujuan, dan selalu melakukan evaluasi sistemik maupun mandiri, oleh public maupun privat
Hanya dengan Komitmen, semua Upaya perubahan melalui Perencanaan yang utuh dengan penganggaran yang selektif akan membuat fokus dalam pencapaian Outcome, tidak berhenti pada Output, yang hanya selesai secara administrasi dan buang waktu.
Komitmen dan Outcome
Ketika para pejuang diseluruh wilayah Nusantara menggelorakan perjuangan Kemerdekaan, walau harus melampaui ratusan tahun dan kehilangan lebih 5 generasi, Komitmennya menghasilkan Kemerdekaan dengan Outcome, Proklamasi.
Outcome memiliki arti dan makna yang sangat penting, ia menunjukkan tingkat keberhasilan dan atau efektifitas suatu proses.
(jika perlu contoh buruk, bukan Outcome. Ketika Menkes RI sembari kesal menginformasikan pencapaian penurunan angka Stunting tahun 2023 hanya turun 0,1% dari 21,6 pada akhir 2022 menjadi 21,5 pada awal tahun 2024. Dengan catatan target Pemerintah 14% diakhir tahun 2024 dikawal Perpres No.72 Tahun 2021 yang didalamnya ada Strategi Nasional yang menggerakkan 17 K/L dan Pemerintah Daerah dengan anggaran puluhan triliun setiap tahun).Tampak Program tanpa Komitmen
Ketika Bung Karno dan kawan-kawan beradu kecerdasan dan martabat sejak 1908 hingga 1945 bermuara merumuskan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945 yang diterima seluruh wilayah, pulau, suku, budaya dan agama.
Pancasila dan UUD 1945 menjadi pemersatu (outcome), landasan suatu Bangsa dan Pemerintahan bisa bekerja dengan kuat, benar dan terukur mencapai tujuan negara, yaitu membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Tanpa komitmen kepada Pancasila dan UUD 1945, dijamin Pemerintahan diera manapun dan oleh siapapun tidak akan mencapai tujuan negara yang Benefitnya kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Contoh pencapaian Outcome berikut, ketika Pak Harto mengawali Pembangunan Nasional dengan konsep Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS), dengan pengendalian pertumbuhan penduduk agar seirama dengan upaya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sebagai jawaban atas perintah Kemerdekaan, dalam tempo cepat Indonesia mencapai keseimbangun pertumbuhan penduduk dengan Total Fertility Rate (TFR) 2,1 sehingga Indonesia menjadi Maju dan Kuat, sekaligus mempersembahkan Bonus Demografi di era 2010-2035 yang menjadi momentum Kebangkitan Indonesia.
Di era Kepemimpinan Nasional Habibie berhasil mendorong total Demokratisasi dan menjadikan Indonesia negara modern dengan Tehnologi kompetitif, Indonesia siap tinggal landas, dan menerbangkan Indonesia dengan Pesawat buatan sendiri (outcome).
Persembahan Kepemimpinan Nasional Gus Dur dan Megawati Sukarno Putri memperkuat Kebhinnekaan melalui Reformasi dan rakyat bisa memilih langsung pimpinan Nasionalnya (outcome). Sehingga terwujud rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi (Benefit).
Presiden SBY dan Jokowi tentu juga punya Outcome yang masih berproses.
Jika melihat perjalanan 75 tahun perjalananan menuju Negara Sejahtera, pencapaiannya masih belum merata. Banyak kendala. Beberapa indikator belum tercapai, terutama yang berhubungan dengan Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, hingga Pengelolaan Lingkungan dan Sumberdaya alam.
Pembangunan infrastruktur semakin berkembang tetapi belum diimbangi dengan tujuan Pembangunan itu sendiri yang bermuara pada kesejahteraan manusia seutuhnya sebagai Outcome implementasi upaya pembangunan dan akhirnya menjadi Benefit dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pertanyaan mengemuka dan perlu diuji dalam ukuran kebermanfaatan (outcome) saat ini, misalnya pada Program Makan Gratis, Pemeriksaan Kesehatan Gratis, Penurunan Angka Stunting, Peningkatan Angka Peserta Belajar, dll.
Semua program itu dilaksanakan diera anugrah atau Bonus Demografi. Disaat mana beban ekonomi Nasional “bisa secara mandiri” ditanggung oleh Keluarga Indonesia, maka Negara dan Pemerintahan punya Modal dan Peluang besar membangun menuju Indonesia Sejahtera.
Pertanyaan berikut, apakah skema Program-program tersebut berkomitmen mencapai Outcome-nya?
Apakah Program Makan Siang yang mulia itu akan bermuara pada peningkatan Pertumbuhan Fisik Anak/Sasaran dan terukur dengan peningkatan Kognitif/Kecerdasan si Anak yang terjadi pada masa usianya, melanjut pada Pendidikan berikutnya dengan prestasi tinggi.
Apakah program Pemeriksaan Kesehatan Gratis yang akan menjangkau 200 juta orang akan menghentikan Laju naik Prevalensi Penyakit Tidak Menular sekaligus secara revolusioner merubah Perilaku Sehat masyarakat ?, Jika merujuk kepada hasil Riset Kesehatan Dasar Kemenkes (Riskesdas, 2018) dalam 20 tahun terakhir menunjukkan trend penyakit tidak menular (PTM) naik cepat dari 40% menuju 70%.
Tanpa Komitmen, justru program ini akan melimpah menjadi beban Kuratif ke Fasilitas Kesehatan yang akhirnya semakin menggerus anggaran Belanja Negara dan masalah Kesehatan tidak selesai.
Upaya penurunan Angka Stunting yang tentu tidak boleh berhenti ditahun 2024. Apalagi target 14% tidak tercapai. Sehingga dengan kondisi masih diatas angka rata-rata WHO yaitu 20%, maka perlu kerja lebih keras dan komitmen tinggi. Disini pertaruhan antara Outcome bebas Stunting atau Indonesia ramai dengan Generasi Hilang (Lost Generation) yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berfikir dan menjadi beban sepanjang masa.
Disinilah perlunya Komitmen dengan Kolaborasi dan Kebersamaan lintas Sektoral dan antara Pemerintah dengan Masyarakat.
Jakarta-Sunterjaya, 1 Februari 2025
Dr.H.Abidinsyah Siregar, DHSM,MBA,MKes
*) Ketua Umum BPP Observasi Kesehatan Indonesia (OBKESINDO) atau Indonesia Health Observer (IHO) yang berkomitmen sebagai mitra strategis yang mendorong Implementasi berbuah OUTCOME. Purnabakti Kemenkes/BKKBN, Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes (2017-2022)/Deputi BKKBN (2013- 2017)/ Komisioner KPHI (2013-2019)/ Direktur Kestradkom Kemenkes (2011-2013)/ Sekretaris Inspektorat Jenderal Depkes (2010-2011)/ Kepala Pusat Promkes Depkes (2008-2010)/ Sekretaris KKI (2005-2008)/Kabag TataUsaha Dinkes Provinsi Sum.Utara (2003-2005), Kadiskes Kab Simalungun (1997-2000 dan Kadiskes Kab Lab.Batu (1094-1996), Kasi Kanwil Depkes Prov.SumUtara (1987-1994), Puskesmas Kec.Sidikalang, Kab.Dairi, Sumut (1984-1986).
Ketua Umum PP PDHMI, Wakorbid DPP IKAL-Lemhannas, Sekjen PP IPHI, Ketua Bidang Kesehatan PP DMI, Dewan Etik MN Kahmi, Penasehat IKAL FKUSU-Jakarta, Penasehat Perkumpulan Komunitas Gowes Sehat Indonesia (KOSEINDO), Pembicara Tetap Radiotalks Sehatselaras SmartFM, Pengasuh mediasosial GOLansia.com dan Kanal-kesehatan.com., Dewan Penyantun STIKES Husada Ria Pembangunan Jakarta, IIK Bhakti Wiyata Kediri, Jawa Timur. Pengajar tidak tetap pada beberapa PT/Universitas bidang Kesehatan Masyarakat





