Pemeriksaan Kesehatan Gratis : “Promotif Preventif Atau Kuratif?”
Tubuh Adalah Detektor Kesehatan Terbaik dan Peka
Kanal-Kesehatan.com – Hari ini saya kagetget.. Semula mendengar video Menkes Budi Gunadi Sadikin mensosialisasikan program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) dihari ulang tahun, dimulai Februari 2025 dari target 50 juta hingga nanti 200 juta setiap tahunnya.
Dari sumber lain, disebutkan untuk memulai program PKG tahun 2025 akan menggunakan anggaran empat triliun. Tentu akan semakin membengkak tahun- tahun berikut.
Yang membuat kagetget tadi, ketika membaca komentar dibawahnya yang tidak sedikit yang kritis hingga sinis. Suara netizen yang mengatakan tidak mungkin, bahkan ada yang menohok tidak percaya, tidak kompeten.
Walau ada beberapa yang mempertanyakan lebih detail dan memuji suara dan gaya penyampaian. Namun kegelisahan netizen bukan pada besar dan kecilnya, tapi pada hak nya mengemukakan pendapat yang perlu diperhatikan dan diuji para ahli yang jujur, dan itu pada tempatnya diwaspadai dengan rendah hati.
Jika dikaitkan dengan misi Presiden RI lewat asta cita untuk memperkuat pembangunan SDM dan disisi lain disebutkan sebagian besar kasus kematian yang terjadi di Indonesia merupakan kasus yang dapat dicegah. Sementara situasi kesehatan menunjukkan masalah kesehatan terjadi pada seluruh siklus kehidupan sejak dalam kandungan hingga lanjut usia.
Apa yang Diwaspadai?
Program PKG-HUT ini, inovatif. Apakah ini unsur transformasi, dan dapat menurunkan prevalensi penyakit dalam waktu cepat?
Seharusnya terjawab dengan pasti. Prediksi tidak sulit dilakukan dengan memperhatikan faktor determinan yang paling dominan. Perlu menempatkan program PKG-HUT secara tepat dan bertanggungjawab.
Merujuk kepada visi asta cita, yang menargetkan pemenuhan hak azasi (cita 1) menuju kemandirian (cita 2) dan memperkuat pembangunan SDM (cita 4), maka program PKG-HUT perlu dievaluasi, apakah ini pemenuhan hak, pemandirian dan kualitas SDM Indonesia.
Boleh jadi PKG-HUT akan menjadi beban berkelanjutan tanpa memberi insentif bagi SDM kesehatan.

Beban kerja tenaga kesehatan dan tenaga medis serta SDM kesehatan yang meningkat dampak dari program ini selayaknya harus diimbangi dengan peningkatan kesejahteraannya.
Belanja SDM, alat medis, barang dan jasa kesehatan, dan tentu bahan/barang kesehatan habis pakai yang tinggi akan makin meningkat, sementara beban kerja tenaga kesehatan dan tenaga medis serta SDM kesehatan lainnya meningkat tanpa diimbangi peningkatan kesejahteraan.
Perlu diwaspadai beban kerja baru. Program PKG-HUT adalah pendekatan kuratif. Walaupun bukan pengobatan tetapi bukan pula promotif dan preventif.
Promotif dan preventif berawal dan bermodal peran dan tanggungjawab setiap orang terhadap status kesehatan dirinya.
Sebagaimana yang diajarkan Hendrik Blum (1974) bahwa status kesehatan setiap orang ditentukan oleh 50% lingkungan, 30% perilaku, 10% faktor keturunan/genetik dan 10% lainnya upaya kesehatan. Peran dan upaya kesehatan hanya 10%
Manusia adalah Detektor Kesehatan
Hampir semua refrensi menunjukkan bahwa detektor kesehatan ter akurat dan tercepat adalah tubuh manusia itu sendiri. Hebatnya deteksi itu tanpa biaya dan tidak membebani belanja negara. Yang perlu, menggerakkan edukator kesehatan untuk melakukan tugas promotif dan promotif ke seluruh rumah Indonesia.
Tubuh manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mendeteksi perubahan kesehatan, bahkan sebelum gejala penyakit muncul. Tinggal mengedukasi setiap manusia untuk menggunakan tubuhnya sebagai alat deteksi dini gangguan kesehatan, dan pada saat yang sama mengedukasi cara cegah/preventif dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Beberapa detektor ( sign and symptom ) kesehatan yang bias kita kenal pada tubuh kita, seperti :
- Gangguan nyeri atau sakit: menunjukkan adanya kerusakan atau infeksi pada bahagian nyeri/sakit.
- Gangguan pencernaan: perubahan pola bab/bak, mual atau diare dapat menandakan gangguan pencernaan hingga kemungkinan tumor.
- Gangguan tidur: sulit tidur atau insomnia menandakan adanya stres atau kecemasan yang bisa berlanjut gangguan kesehatan serius.
- Gangguan penglihatan dan pendengaran: menandakan gangguan mata atau telinga.
- Kelelahan: deteksi awal kekurangan cairan (dehidrasi), kurang gizi/nutrisi atau tanda awal penyakit.
- Demam: demam khas deteksi tubuh merespons adanya infeksi.
Kondisi diatas bersifat universal, artinya edukator kesehatan bisa dengan mudah menjelaskan dengan sangat menarik.
Namun tidak sedikit yang membandel, walau sudah dibaca “dapat membunuhmu”, terus saja dilanjutkan perilaku buruknya, dan lebih buruk lagi perilaku itu sering dilakukan ditempat umum sekalipun disitu ada bayi, balita, anak hingga lansia.
Apa yang Paling Mendesak? Biaya Murah dan Mudah
Sesuai program kesehatan dasar dan primer yang utama adalah promotif dan preventif.
- Adakah edukator profesional di puskesmas?.. Jawabnya tidak ada. Rekruitmen tidak ada.
- Adakah pengawas kesehatan (health inspector) yang tugasnya mengimplementasikan kebijakan sanksi pelanggaran kesehatan di lapangan. Jawabnya : tidak ada.
Rekruitmen bisa. Lakukan kolaborasi dengan mengoptimalkan Babinsa dan Babinkamtibmas sebagai health inspektor. Jika di Prancis dan beberapa negera sehat, disebut gendamerie atau tentara sosial dengan tugas tertib sosial termasuk kesehatan.
Obkesindo (perkumpulan observasi kesehatan indonesia atau indonesia health observer/IHO) sudah sering memberi masukan. Terakhir meminta agar formasi CPNS kesehatan tahun 2024 dialokasikan sebagai edukator kesehatan dan ditempatkan 2 orang ditiap Puskesmas. Program pokok puskesmas yang 17 kegiatan, kegiatan pertama adalah promosi kesehatan, namun tidak ada tenaga professional disana, apalagi hasil pendidikan formal promosi kesehatan, tidak ada.
Lantas Bagaimana dengan PKG-HUT?
Peringatan hari kesehatan nasional, november 2024 baru saja berlalu, mengambil tema “Gerak bersama, sehat bersama”.
Seharusnya kita saat ini sudah berada di muara dari arah pembangunan kesehatan nasional (2005-2024) bidang kesehatan yang berujung penurunan cara pendekatan kuratif dan semakin dominan pendekatan promotif dan preventif.
Seharusnya diakhir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kesehatan 2005-2024 terlihat kemandirian sebagai indikator unggulnya peran setiap orang atas kesehatan diri dan lingkungannya. Tetapi justru terlihat belum wujud, bahkan peran masyarakat dan profesi semakin melemah, dilemahkan.
Seberapa besar indikasi adanya gerak bersama, sehat bersama?
Dengan melihat kondisi faktual dilapangan dan berbasis observasi kepada kondisi beban yang semakin berat di fasilitas kesehatan serta semakin besarnya anggaran belanja yang perlu disediakan, sementara kemampuan anggaran nasional semakin terbatas, maka transformasi kesehatan harus semakin cerdas memilih prioritas penggunaan sumberdaya manajemennya.
Alangkah bijak jika upaya pemandirian masyarakat sebagai tujuan semua program kesehatan, yang juga ditegaskan dalam asta cita pemerintahan era 2024-2029 menjadi corak dominan program. Sembari membangun dan memperkuat kolaborasi dengan semua kementerian/lembaga dan badan yang terkait langsung dengan kesehatan perorangan dan komunitas.
Pemandirian dan kemandirian setiap warga bangsa Indonesia dibidang kesehatan perorangan secara mendasar akan menyelesaikan banyak masalah mendasar nasional dan sekaligus mendekatkan semua pencapaian tujuan nasional termasuk kesejahteraan sebagai wujud ketahanan nasional.
Jakarta-Sunterjaya, 23 Januari 2025
Penulis : dr. Abidinsyah Siregar, DHSM, MBA., M.Kes
Ketua umum BPP Observasi Kesehatan Indonesia (Obkesindo) atau Indonesia Health Observer (IHO) yang berkomitmen sebagai mitra strategis yang mendorong implementasi pembangunan bermuara pada outcome dan benefit, bukan pada output.
Purnabakti Kemenkes/BKKBN, ahli utama BKKBN DPK Kemenkes (2017-2022)/Deputi BKKBN (2013-2017)/ Komisioner KPHI (2013-2019)/ Direktur Kestradkom Kemenkes (2011-2013)/ Sekretaris Inspektorat Jenderal Depkes (2010-2011)/ Kepala Pusat Promkes Depkes (2008- 2010)/ Sekretaris KKI (2005-2008)/Kabag Tata Usaha Dinkes Provinsi Sumut (2003-2005), Kadiskes Kab Simalungun dan Kadiskes Kab Lab.Batu di Provinsi Sumut.
KetuaUmum PP PDHMI, Wakorbid DPP Ikal-Lemhannas, Sekjen PP IPHI, Ketua Bidang Kesehatan PP DMI, Dewan Etik mn Kahmi, Penasehat Ikal FK USU-Jakarta, Pembicara tetap Radiotalks Smartfm, Pengasuh mediasosial golansia.com dan kanal-kesehatan.com





