Serba-serbi Transformasi Sistem Kesehatan : “Transformasi Layanan Primer”
Artikel berseri tentang "Transformasi Sistem Kesehatan"
Kanal-kesehatan.com – Salah satu transformasi sistem kesehatan yang dicanangkan adalah Transformasi Layanan Primer, yang dalam konsepnya terjadi perubahan pendekatan dan tambahan kegiatan promotif-preventif yang sangat signifikan, baik dari sisi akses, kelengkapan maupun kualitas pelayanan kesehatan primer. Petunjuk Teknis Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomer HK.01.07/Menkes/2025/2023 yang menjelaskan cukup rinci tentang kebijakan baru dalam hal pelayanan kesehatan primer ini.
Kementerian Kesehatan telah menetapkan 3 program utama penguatan upaya preventif di pelayanan kesehatan primer yaitu:
Penambahan jenis imunisasi rutin dari 11 menjadi 14 jenis vaksin yaitu: BCG, DPT-HB-Hib, Hep B, MR, Polio (OPV-IPV), DT/td, JE, HPV, PCV, Rotavirus. Tiga jenis terakhir merupakan penambahan jenis vaksinasi baru.
HPV digunakan untuk mencegah kanker serviks, yang merupakan kanker terbanyak kedua bagi wanita setelah kanker payudara. Sedangkan pneumonia dan diare yang merupajan 2 dari 5 penyebab tertinggi kematian balita, dapat dicegah dengan imunisasi PCV dan Rotavirus.
Skrining penyakit prioritas meliputi 14 jenis penyakit yaitu:
Hipotiroid kongenital, thalasemia, anemia, stroke, serangan jantung, hipertensi, penyakit paru obstruksi kronik, tuberkulosis, kanker paru, hepatitis, diabetes melitus, kanker payudara, kanker serviks dan kanker usus.
Peningkatan kesehatan ibu dan anak antara lain:
- Pemantauan tumbuh kembang anak di Posyandu dengan alat antropometri yang tersandard.
- Pemeriksaan kehamilan (ANC) dari 4 kali menjadi 6 kali, termasuk 2 kali USG dengan dokter pada trimester 1 dan trimester 3 kehamilan.
Skrining payudara dengan USG
Skrining penyakit jantung bawaan di Puskesmas dengan Pulse Oxymetry Neonatus.
Selain itu juga ada 3 fokus pelayanan Kesehatan primer yaitu:
Siklus hidup sebagai fokus integrasi pelayanan kesehatan, sekaligus sebagai fokus penguatan promosi dan pencegahan.

Ada sekitar 14 penyakit yang masuk ke dalam program skrining kesehatan, salah satunya hipertensi.
Disini terjadi perubahan pendekatan atau mindset, dari pendekatan program ke pendekatan siklus hidup yang kemudian disebut sebagai pendekatan klaster. Perubahan ini akan membawa dampak besar terhadap pola layanan dan deteksi dini penyakit. Sebagai contoh bila seorang pasien dewasa datang ke Pukesmas karena sakit gigi, maka Puskesmas tidak hanya mengobati giginya yang sakit, tetapi juga melakukan skrining yang seharusnya dilakukan pada pasien terebut seperti hipertensi, diabetes melitus, dsb. Hal ini akan meningkatkan cakupan deteksi dini penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, gangguan jiwa, dan banyak lagi penyakit khususnya yang dilakukan pada program skrining. Ada sekitar 14 penyakit yang masuk ke dalam program skrining kesehatan ini. Jenis skrining yang dilakukan sesuai dengan siklus hidup, jadi ada jenis skrining untuk ibu hamil, skrining untuk bayi, skrining untuk balita, skrining untuk usia dewasa, skrining untuk lansia, dst.
Untuk kelancaran perubahan pola layanan kesehatan yang berbasis siklus hidup ini, di Puskesmas perlu dibuat alur pelayanan yang sesuai, yang tentu saja berbeda dengan alur pelayanan sebelumnya yang berbasis program.
Mendekatkan pelayanan kesehatan melalui jejaring hingga tingkat desa dan dusun, termasuk untuk memperkuat promosi dan pencegahan serta ketahanan terhadap pandemi.
Disini terjadi perbaikan akses yang signifikan, selama ini akses pelayanan oleh tenaga kesehatan ada di Puskesmas, namun akses ini akan diturunkan di tingkat desa. Nanti setiap desa diharapkan ada unit pelayanan kesehatan tingkat desa berupa puskesmas pembantu atau poskesdes (Pos Kesehatan Desa). Jadi akan ada penguatan Pustu, kalau sekarang hanya buka seminggu sekali, nanti akan dibuka setiap hari, tenaga dilengkapi minimal 2 orang nakes (1 bidan dan 1 perawat) ditambah 2 orang kader. Tugas Pustu bukan hanya memberikan pelayanan kesehatan di gedung Pustu, tetapi juga membina posyandu yang ada di tingkat dusun atau RW (Rukun Warga). Jadi nanti ujung tombak pelayanan kesehatan primer termasuk membina posyandu, bukan lagi di Puskesmas, tetapi di Pustu. Perubahan ini jelas membawa kemudahan akses bagi masyarakat, terbuti pada Puskesmas yang sudah melaksanakan ILP, jumlah pengunjung Pustu meningkat drastis, sementara pengunjung Puskesmas cenderung turun karena sudah ditanggulangi di tingkat Pustu.
Peralatan di Pustu juga dilengkapi sehingga beberapa skrining penyakit bisa dilakukan oleh Pustu. Selain itu ada kunjungan rumah oleh kader Pustu untuk melakukan edukasi kepada sasaran yang tidak datang ke posyandu atau kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan kepada keluarga yang punya masalah kesehatan tertentu.

Kegiatan Posyandu di kawasan Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat
Di tingkat dusun/RW juga terjadi perubahan yang bermakna, berbagai bentuk UKBM (Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat) seperti posyandu balita, posyandu lansia, posbindu PTM, BKB (Bina Keluarga Balita), Posmaldes (Pos Malaria Desa) dan sejenisnya, diintegrasikan menjadi satu yaitu LKD (Lembaga Kemasyarakatan Desa) Posyandu, yang sudah diatur dalam Permendagri nomer 13 Tahun 2024 tentang Posyandu.
Memperkuat pemantauan wilayah setempat (PWS) melalui digitalisasi dan pemantauan dengan dashboard situasi kesehatan per desa serta kunjungan keluarga.
PWS adalah fungsi manajemen yang telah terbukti dapat meningkatkan kinerja satuan kerja kesehatan. Implementasi PWS pada saat awal pembentukan posyandu dulu, telah berhasil meningkatkan cakupan imunisasi secara bermakna, sehingga mempercepat tercapainya UCI (Universal Child Immunization) di Indonesia. Pada transformasi pelayanan kesehatan primer ini, PWS diperkuat dengan teknologi digitalisasi, sehingga bisa lebih akurat dan lebih cepat dianalisis, sehingga intervensi yang dilakukan lebih terarah. PWS juga diharapkan bisa digunakan untuk memantau kunjungan keluarga dan hasilnya, sehingga deteksi dini penyakit, ketaatan minum obat dan deteksi dini tanda2 bahaya bisa dilakukan.
Sekian dulu ulasan singkat tentang transformasi pelayanan kesehatan primer, berikutnya secara berkala akan saya sajikan detail dari setiap aspek ILP (Integrasi Layanan Primer) sebagai bentuk operasional dari pilar pertama transformasi sistem kesehatan.
Pengantar Serba Serbi Transformasi Sistem Kesehatan dapat dibaca disini
Trihono
24 Desember 2024
Silakan tulis pertanyaan dan tanggapan di kolom komentar dan sertakan pertanyaan dengan diawali kata “Transformasi Kesehatan” agar dapat segera kami tanggapi.





