Meraba Denyut Nadi Literasi di Dunia Kesehatan
Penulis : dr. Andi Wijayakesuma, M.Kes Prof. Dr. Dewi Marhaeni Diah Herawati, drg., MSi (Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran Universitas Padjadjaran)
Kanal-Kesehatan.com – Tahun lalu, Bishal Gyawali, seorang ahli onkologi medis yang juga merupakan associate professor di Queen’s University meluapkan kegembiraannya di jejaring sosial LinkedIn. Dia punya alasan untuk merasa begitu bahagia. Meskipun cuma satu, alasan tersebut memang sangat layak untuk dirayakan. Dia meraih apa yang diimpikan oleh begitu banyak peneliti dan praktisi kesehatan di seluruh penjuru dunia. Untuk pertama kalinya, Bishal Gyawali yang selama puluhan tahun telah menekuni ilmu onkologi medis, berhasil mempublikasikan sebuah paper di New England Journal of Medicine.
Banyak ucapan selamat datang dari koleganya yang terkesan dengan apa yang telah ia tulis dan rekomendasikan dalam jurnal tersebut. Jika mengingat bahwa setiap tahun New England Journal of Medicine menerima lebih dari 16000 naskah dan hanya sekira lima persen dari naskah tersebut yang dianggap layak untuk diterbitkan, maka kita bisa membayangkan betapa bahagianya Bishal Gyawali saat itu. Keberhasilan “menembus” jurnal medis terbaik di dunia memang selayaknya dipandang sebagai sebuah prestasi dan pengakuan terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan penelitian, analisis, menarik kesimpulan dan sekaligus mengkomunikasikan informasi ilmiah yang dimilikinya kepada publik melalui bahasa tulis.

New England Journal of Medicine bukan hanya bergengsi dan tidak juga sekedar berisi. Sudah lebih dari dua ratus tahun jurnal yang dipelopori oleh John Collins Warren dan James Jackson ini secara konsisten menerbitkan artikel artikel ilmiah yang secara signifikan memberikan pengaruh dalam perubahan ilmu pengetahuan dan praktik kedokteran.
Melalui jurnal ini dunia kedokteran mulai mengetahui bahwa penggunaan aspirin bisa membantu mencegah serangan jantung dan zat eter memiliki potensi untuk digunakan sebagai obat anestesi yang dapat mengurangi nyeri dalam proses pembedahan. Selama ratusan tahun pula New England Journal of Medicine bersama dengan jurnal-jurnal kedokteran terkemuka lainnya turut memengaruhi para pengambil keputusan di seluruh dunia. Evolusi yang telah mereka jalani selama ratusan tahun ini adalah sebuah contoh adaptasi yang berhasil, tidak hanya untuk mempertahankan eksistensinya tetapi juga melanjutkan kontribusinya terhadap peradaban manusia secara keseluruhan.
Berpacu dengan Perkembangan Ilmu Kesehatan
Proses digitalisasi sudah mereka mulai sejak puluhan tahun yang lalu. Hasilnya sungguh luar biasa, diseminasi informasi berlangsung lebih cepat dan kolaborasi menjadi lebih mudah serta terbuka. Para peneliti dari berbagai negara bersatu dalam berbagai penelitian dan mencurahkan segala pengetahuannya dalam sebuah tulisan nan bermutu. Isi tulisannya wajib berlandaskan pada alasan ilmiah yang kuat dan teruji serta relevan dengan kondisi terkini yang ada dalam masyarakat.
Membaca Kondisi Kesehatan Masyarakat, Kini dan Nanti Tantangan yang terhidang bagi seluruh bidang keilmuan adalah bagaimana berlari cepat untuk merespon masalah-masalah baru. Pandemi Covid-19 adalah contoh terkini kontes adu cepat antara perkembangan virus dengan perkembangan ilmu pengetahuan di berbagai bidang.
Meskipun menyisakan banyak duka, kita perlu bersyukur berkat budaya literasi yang terstruktur rapi, ilmuwan di seluruh dunia bisa bahu membahu mencari solusi yang cepat dan tepat. Hal ini dibuktikan dengan terbitnya lebih dari 23.500 artikel ilmiah yang berkaitan dengan Covid-19 selama enam bulan pertama pandemi.
Covid-19 tentu masih menjadi masalah kesehatan, demikian pula dengan berbagai penyakit lainnya yang sudah sejak lama kita khawatirkan. Meningkatnya angka harapan hidup masyarakat global seolah berhadapan dengan paradoks ketika jumlah kejadian Penyakit Tidak Menular (PTM) terus bertambah. Beban kesehatan, sosial dan ekonomi yang harus ditanggung akibat PTM semakin berat.
Menurut data WHO, penyakit tidak menular membunuh 41 juta orang setiap tahunnya, setara dengan 74% dari seluruh kematian secara global. Setiap tahun juga tercatat lebih dari 15 juta orang meninggal karena PTM pada usia antara 30 hingga 69 tahun dan 85% dari kematian dini itu terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.
Jumlah kematian dan kecacatan akibat PTM memang cenderung terus tumbuh terutama di negara-negara berpendapatan rendah. Oleh karena itu, The Sustainable Development Goals (SDGs) telah menempatkan pengendalian PTM dan faktor risikonya sebagai salah satu target yang harus dicapai. Melalui kolaborasi dalam skala global diharapkan dapat terjadi penurunan 30% kematian dini akibat PTM pada tahun 2030. Biaya sosial dan ekonomi akibat PTM semakin bertambah besar ketika terjadi pada kelompok usia produktif dan tentu saja berimplikasi negatif terhadap Quality of Life penderita maupun keluarganya.
Tantangan Tuberkulosis
Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ternyata PTM bukanlah satu-satunya ancaman. Perbaikan dalam dalam sistem deteksi dan pelaporan membawa kita pada fakta bahwa notifikasi kasus TBC tertinggi sepanjang sejarah telah terjadi pada tahun 2022 dan 2023 yang lalu. Lebih dari 809.000 kasus baru TBC ditemukan pada tahun 2023. Hal ini tentu merupakan pekerjaan rumah bagi Indonesia yang masih menjadi salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia.
Tingginya kejadian penyakit TBC selayaknya juga menjadi pengingat agar kita selalu mawas diri dan tetap mewaspadai bahaya penyakit-penyakit infeksi lainnya. Selain masalah TBC, Indonesia juga dituntut untuk mengupayakan penurunan kasus stunting (perawakan pendek) dan obesitas pada saat bersamaan. Penanganan obesitas secara alamiah seharusnya terintegrasi dengan penanganan PTM, sedangkan masalah stunting perlu intervensi yang jauh lebih komprehensif.
Stunting pada awal kehidupan, terutama dalam seribu hari pertama sejak konsepsi sampai usia dua tahun, menimbulkan konsekuensi fungsional yang buruk pada anak. Beberapa dari konsekuensi tersebut termasuk kemampuan kognitif dan kemampuan belajar yang buruk. Pada tahun 2023 angka prevalensi stunting tercatat sebesar 21,5% Prevalensi tersebut harus diturunkan segera, bagaimanapun stunting bukan hanya sekedar masalah perawakan. Pengalaman dan bukti internasional menunjukkan bahwa stunting juga berdampak secara ekonomi. Terhambatnya pertumbuhan ekonomi dan produktifitas kerja akibat stunting dapat menyebabkan hilangnya 11% dari Gross Domestic Product.
Bagaimana Literasi di Dunia Kesehatan Menghadapi Tantangan Ini?
Rumpun ilmu kesehatan adalah bidang pelajaran yang tidak boleh melupakan tiga pilar penting dalam perkembangannya. Tindakan promotif, preventif dan kuratif masih sangat relevan untuk dikaji agar dapat diintegrasikan dengan teknologi yang berkembang secara intensif. Bioteknologi dan teknologi informasi yang berkembang secara pararel membuka peluang terciptanya layanan kesehatan yang efektif dan efisien. Penegakan diagnosis dan pemilihan terapi berbasis bioteknologi memungkinkan identifikasi faktor risiko secara individual terhadap penyakit-penyakit tertentu. Strategi pencegahan dan pengobatan dapat disusun secara spesifik dengan outcome yang jauh lebih baik. Data-data yang diperoleh dari berbagai macam pemeriksaan dan analisis yang menggunakan pendekatan bioteknologi merupakan modal utama dunia kedokteran dalam memasuki era Personalized Medicine.
Beberapa tahun terakhir kita juga melihat dengan jelas betapa perkembangan pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh penerapan teknologi digital. Berbagai inovasi kesehatan digital telah diperkenalkan selama beberapa tahun terakhir dan tampaknya masih banyak kemajuan dan perubahan lainnya yang akan dibawa oleh teknologi digital ke dalam dunia kesehatan. Hal ini bisa dilihat dari tren publikasi ilmiah yang mulai didominasi oleh kata kunci “kesehatan digital”.
Penelitian dan publikasi di bidang kedokteran semakin banyak melibatkan ahli-ahli dari berbagai bidang ilmu lainnya, khususnya ahli dari rumpun ilmu yang berkaitan dengan teknologi digital. Kajian tentang integrasi teknologi digital dalam pelayanan kesehatan juga perlu dilakukan agar tenaga kesehatan mampu menyikapi perkembangan ini secara bijak dan proporsional. Melalui literasi, tenaga kesehatan dapat mengetahui apa yang dipikirkan oleh para professional di bidang lain dan apa yang dikehendaki oleh pasien agar layanan kesehatan
berlangsung secara optimal melalui penerapan teknologi digital. Menulis, membaca dan berdiskusi tentang “kesehatan digital” adalah modal penting bagi tenaga kesehatan agar tidak tergerus oleh zaman dan tergusur oleh perubahan. Saat ini cakupan literasi tenaga kesehatan memang perlu diperluas. Suka tidak suka beban pembelajarannya menjadi bertambah.
Tapi dengan konsistensi dan sistematika yang baik dalam melakukan proses literasi maka penguasaan tentang topik “kesehatan digital” ini bukanlah sesuatu hal yang sulit untuk dilakukan. Tidak melulu bergantung pada jurnal ilmiah yang perlu ditulis dengan proses berliku. Literasi yang berkualitas bisa ditempuh dengan banyak cara yang lebih mudah dan sederhana.
Membaca, menulis dan berdiskusi sejatinya adalah denyut nadi yang memastikan bahwa ilmu pengetahuan itu belum mati.
Kita mengetahui bahwa ilmu pengetahuan begitu dinamis, selalu berorientasi ke masa depan dengan berbekal kumpulan pengetahuan di masa lalu. Begitu banyak karya ilmiah yang dihasilkan setiap hari. Semuanya butuh dikritik, dikoreksi, diperbaiki dan dikomunikasikan kepada publik sebagai bagian dari kegiatan bertukar pikiran secara rasional. Ketika sesuatu akhirnya berhasil dicapai, maka pencapaian tersebut sejatinya merupakan buah dari diskusi serta kerjasama banyak pihak melalui proses literasi yang panjang.
Setiap orang yang berpartisipasi mengisi celah yang kosong, menambal lubang yang menganga dan memperbaiki kekurangan yang ada agar tulisan dan diskusi yang tercipta menjadi semakin kaya hingga akhirnya dapat bermuara pada kemaslahatan masyarakat. Prinsip ini tentu berlaku untuk semua disiplin ilmu. Membaca, menulis dan berdiskusi sejatinya adalah denyut nadi yang memastikan bahwa ilmu pengetahuan itu belum mati.
—





