Seputar Demam Berdarah, Gejala, dan Cara Pengobatannya
Kanal-kesehatan.com – Sebuah pesan video berantai tersebar melalui aplikasi whatsapp. Tampak seorang bapak dibalik meja kerja mengingatkan untuk mencegah tersebarnya penularan demam berdarah disebuah wilayah. Cara ini efektif, mengingat saat ini semua kalangan lekat dengan telepon selular. Hingga pesan yang durasinya tak lebih dari 30 detik menjadi pengingat jitu.

Penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue melalui media nyamuk.
Ya, memang begitu pentingnya mengingatkan kembali dan bahkan terus menerus mengingatkan tentang cara pencegahan penyakit demam berdarah dengan masif, sebab penyebarannya cukup luas dan tinggi. Jawabannya memang ada pada kesadaran masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang memang sangat berperan penting.
Data dari website badan kesehatan dunia (WHO) menyebutkan, kasus demam berdarah tertinggi tercatat pada tahun 2023 pada 80 negara dengan kasus lebih dari 6,5 juta dan dilaporkan lebih dari 7.300 kematian akibat demam berdarah.
Dr Abidinsyah Siregar, DHSM., M.Kes mantan Kepala Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes dan sekarang menjadi penggiat yang mengobservasi berbagai masalah kesehatan, pernah menyampaikan lewat sebuah program RdioTalks bahwa saat ini Indonesia berada dalam fenomena perubahan iklim yang ekstrim berupa El-Nino dan La-Nina. Dimana musim kering berkepanjangan dengan diselingi hujan deras sesaat, sehingga banyak tempat biakan Nyamuk Aedes AeGypty membawa Virus DBD yang menggigit manusia dan memuntahkan virusnya sebelum menyedot darah. Indonesia kini menjadi negara dengan prevalensi penyakit menular DBD kedua setelah Tuberkulosa.
Apa Itu Demam Berdarah Dengue
Demam Berdarah Dengue yang dikenal singkat dengan DBD adalah suatu kondisi sakit yang disebabkan oleh virus bernama Virus Dengue. Melalui perantara Nyamuk Aedes Aegypti, seseorang dapat terinfeksi virus ini. Setelah diteliti oleh ahli, Virus Dengue ini teridentifikasi menjadi empat serotipe yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4.
Virus Dengue Menyebabkan Dua Tipe Infeksi
Virus tersebut kemudian menyebabkan dua tipe infeksi, yakni infeksi primer untuk kondisi Demam Dengue (DD) dan infeksi sekunder pada kondisi Demam Berdarah Dengue (DBD)
Tentu kondisi DBD sering kali menakutkan bagi pasien karena lebih berat dibanding dengan kondisi DD. Jika pada DD gejala klinisnya hanya tampak ruam kemerahan saja, pada pasien DBD terjadi kebocoran plasma darah yang menimbulkan bintik-bintik perdarahan pada kulit.
Perdarahan juga terjadi pada usus, gusi, hidung dan lainnya, sehingga kondisi pasien DBD menjadi serius ditangani guna menghindari kondisi pasien yang lebih buruk yang dapat menyebabkan kematian.
Gejala Demam Dengue
Tentunya dibutuhkan diagnosis medis untuk menyimpulkan kondisi DD. Namun pada umumnya pasien mengalami nyeri otot dan sendi. Nyeri umumnya dirasakan juga di daerah perut, punggung, bahkan untuk menggerakkan bola mata juga dirasakan nyeri. Serta pastinya pasien akan mengalami demam disertai ruam. Kondisi tersebut menghilangkan selera makan, mual atau muntah, sakit kepala atau sakit tenggorokan.
Suhu tubuh mencapai angka 40 derajat celcius dengan denyut nadi normal. Tekanan darah umumnya menurun, tampak pada leher dan tenggorokan kelenjar menjadi bengkak.
Kondisi ini berlangsung umumnya selama 2 hari. Jika kemudian suhu menurun ditandai dengan pengeluaran keringat pada keesokan harinya bukan berarti pasien aman dari DD, karena biasanya akan dilanjutkan dengan suhu tubuh yang kembali meningkat. Dikenal juga dengan Siklus Pelana Kuda.
Gejala Demam Berdarah Dengue
Mengingat kondisi DBD lebih berat dari DD dengan perbandingan 1 dari 20 orang, serta gejala pada umumnya hampir sama dengan gejala pada kondisi DD. Pada DBD akan dipantau ketat dalam 24-48 jam setelah demam menghilang ketika produksi keringat berlebihan, sebagai respon alami tubuh menstabilkan suhu tubuh.
Berikut ini tanda peringatan demam berdarah yang parah:
1. Mengalami pendarahan dari hidung atau gusi.
2. Sering muntah, minimal 3 kali dalam 24 jam.
3. Muntah darah, atau ditemukan darah dalam tinja.
4. Sakit perut dan ketika perut ditekan dirasakan nyeri yang hebat.
5. Lemas, tidak bertenaga, merasa lelah.
6. Kondisi psikis juga terganggu karena merasa gelisah dan serba salah sehingga mudah tersinggung.
Pengobatan Demam Berdarah Dengue
Fokus pengobatan DBD adalah bagaimana mengatasi hilangnya cairan akibat kebocoran plasma dan pendarahan serta demam dan muntah. Sehingga umumnya, obat-obatan yang diberikan bersifat mengobati gejala. Sehingga mencukupi asupan cairan juga menjadi salah satu upaya yang signifikan. Minuman jus buah dan cairan elektrolit seperti yang terkandung dalam air kelapa juga menjadi pilihan terbaik.
Selebihnya pengobatan akan dipantau dokter, tergantung respon tubuh pasien dan seberapa parahnya gejala yang dialami. Jadi segera mendatangi fasilitas kesehatan jika merasakan gejala DD atau DBD tersebut.
Mencegah dengan 3M Plus
Mencegah lebih baik dari pada mengobati, jargon populer ini memang sangat mengena sasaran. Dapat diterapkan dalam upaya mencegah penularan penyakit DBD dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan melakukan 3M Plus. Yaitu

Menjaga kebersihan lingkungan adalah kunci.
1. Menguras
Rajin menguras wadah yang berisi air. Seperti bak penampungan air minum atau air mandi. Agar tidak menjadi tempat berkembang biak Nyamuk Aedes Aegypti.
2. Menutup
Tutup rapat tempat penampungan air. Jangan biarkan terbuka apalagi tidak rajin mengurasnya, ini akan menjadi media berkembang biak nyamuk.
3. Mengubur
Jika kaleng atau botol bekas termasuk ban bekas dan sejenisnya tidak bisa didaur ulang atau langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, segera kubur benda-benda tersebut agar tidak berpotensi menampung air hujan.
4. Plus
Upaya plus atau tambahan lainnya yang bisa dilakukan adalah memakai perlindungan seperti kelambu saat tidur atau lotion anti nyamuk. Menggunakan abate pada kolam dan penampungan air. Bagi yang punya hobi memelihara ikan, sekalian pelihara ikan pemakan jentik nyamuk juga ya. Biasakan tidak menggantung pakaian dipintu kamar. Rajin cek saluran air atau parit yang tidak lancar, perbaiki talang air yang tersumbat. Tingkatkan lagi kerja bakti bergotong royong di lingkungan sekitar, serta menanam tanaman anti nyamuk di pekarangan.
Tanaman Pengusir Nyamuk
Salah satu upaya plus atau tambahan adalah menanam tanaman anti nyamuk. Beberapa jenis yang populer adalah tanaman lavender, dipasaran dibanderol sekitar 30 sampai 50 ribu. Ada juga yang lebih murah bernama Zodia, untuk ukuran kecil dilepas dengan kisaran harga tiga ribu lima ratus rupiah saja.

Tanaman Lavender ini, selain anti nyamuk, warnanya pun memikat.
Tanaman ini bisa ditanam dalam pot sehingga bisa kita letakkan di dalam maupun luar ruang. Soal harga tentu semakin lebat tanaman, akan semakin mahal pula harganya. Meski demikian manfaat yang didapat tentu akan lebih banyak daripada tidak berupaya menekan perkembangbiakan nyamuk.
Meski di Indonesia angka kematian karena penyakit DBD termasuk dalam urutan ke-4 dan fasilitas kesehatan juga sudah dibekali penanganan yang cukup baik, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengimbau, “Cegah fatalitas DBD dengan cepat berobat ke Puskesmas atau ke rumah sakit jika keadaan berat. Semua fasilitas kesehatan sudah tahu tinggal diberi infus yang penting jangan terlambat,”
Lebih lanjut Menkes Budi mengingatkan juga agar menjadi Juru Pemantau Jentik (Jumantik) Mandiri di rumah dan lingkungan masing-masing. Menkes Budi juga mengingatkan agar warga tidak panik menghadapi peningkatan kasus DBD ini, sebab Kementerian Kesehatan sudah melakukan tindakan preventif termasuk menyiapkan larvasida untuk mematikan jentik-jentik dan insektisida untuk fogging.
Penulis Dina Dasucianawati
Ditinjau oleh Dr Abidinsyah Siregar, DHSM., M.Kes
Referensi 1. www.who.int 2. www.kemenkes.go.id 3. Youtube Sehat Selaras Dr Abidin 4. Vol.10 No.3 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan: Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya





