Apakah Pemberian Tablet Tambah Darah Pada Remaja Putri Efektif Mencegah Stunting?
Kanal-Kesehatan.com – Secara nasional pada tahun 2024 prevalensi stunting ditargetkan menjadi 14%. Hal ini berarti diperlukan penurunan yang cukup besar karena data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 masih menunjukkan prevalensi stunting adalah 24,5%. Pengendalian faktor risiko munculnya kasus stunting baru menjadi prioritas dalam berbagai program yang digulirkan pemerintah. Fokus penanganan stunting yang sebelumnya hanya pada 1000 hari pertama kehidupan saat ini bergeser lebih ke hulu yaitu sejak usia remaja. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan kondisi kesehatan dan kualitas calon ibu yaitu remaja putri antara lain dengan mencegah dan mengatasi anemia.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada remaja berusia 15-24 tahun adalah 32%. Remaja putri 7,2% lebih banyak mengalami anemia dibanding remaja putra, dari Nutrition International Survey tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi anemia remaja putri di Jawa Barat mencapai 41,93%.
Menurut World Health Organization (WHO), Anemia merupakan kondisi kesehatan dimana kadar hemoglobin darah kurang dari normal. Pada kondisi jumlah sel darah merah tidak cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh. Penyebab utama anemia adalah kekurangan asupan zat besi, infeksi cacing tambang dan schistosomiasis, penyakit menular seperti malaria, kekurangan mikronutrien penting lainnya termasuk folat, vitamin B12, dan vitamin A, serta kondisi bawaan yang memengaruhi stabilitas sel darah merah seperti talasemia dan anemia sel sabit.

Sering sakit kepala dan pusing, mata berkunang-kunang, pucat, mudah mengantuk, dan merasa lelah adalah beberapa gejala anemia.
Gejala anemia yang umum dirasakan antara lain lesu, letih, lemah, lelah, dan lalai yang disertai dengan adanya sakit kepala dan pusing, mata berkunang-kunang, pucat, mudah mengantuk merasa lelah, serta sulit untuk berkonsentrasi.
Hal ini penting diatasi karena berhubungan dengan kesehatan remaja, peningkatan risiko gangguan kesehatan berkaitan dengan produktivitas, kehamilan dan persalinan serta pencegahan stunting pada generasi berikutnya.
Anemia pada ibu hamil diketahui merupakan faktor risiko stunting pada bayi dan anak bawah usia dua tahun(Baduta). Ibu anemia akan cenderung melahirkan bayi dengan cadangan zat besi rendah, kondisi ini dapat menetap sampai usia anak dan remaja. Anemia selama kehamilan meningkatkan risiko pertumbuhan janin terhambat, lahir prematur, berat bayi lahir rendah, serta gangguan tumbuh kembang anak. Selain itu, anemia saat kehamilan dapat menaikkan risiko perdarahan sebelum maupun saat proses persalinan, kondisi ini merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan anak.
Upaya Cegah Anemia
Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia dilakukan dengan memastikan remaja putri mendapatkan asupan zat besi yang cukup ke dalam tubuh agar dapat membentuk hemoglobin sesuai kebutuhan.

Pentingnya terus memberikan informasi dan edukasi mengenai jenis makanan kaya akan zat besi, seperti daging merah, sayuran berdaun hijau, tahu, kismis, dan kurma.
Remaja harus sadar mengenai pentingnya menjaga makanan sehari-hari agar beragam, sehat dan bergizi seimbang serta memperhatikan sumber makanan yang mengandung zat besi dan menghindarkan makanan atau minuman yang akan mengganggu penyerapan zat besi tersebut.
Selain itu, perlu dilakukan edukasi mengenai jenis makanan kaya akan zat besi, seperti daging merah, sayuran berdaun hijau, tahu, kismis, dan kurma. Remaja juga harus cukup mengonsumsi vitamin c karena dapat membantu penyerapan zat besi makanan. Sebaliknya, remaja putri juga harus faham menghindari konsumsi teh atau kopi secara berlebihan karena bisa mengurangi penyerapan zat besi.
Menurut WHO, intevensi lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan ketersediaan dan asupan mikronutrien melalui fortifikasi atau suplementasi dengan zat besi, asam folat, serta vitamin dan mineral lainnya. Salah satunya adalah pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri. Program ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2014 dan diadaptasi dari program pemberian TTD pada ibu hamil yang sudah lebih dulu dijalankan.
Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) Cegah Anemia
Pemberian tablet tambah darah (TTD) dapat mencegah dan mengatasi anemia, sehingga remaja putri dapat menjadi calon ibu dengan kondisi kesehatan optimal dan memiliki risiko yang lebih rendah untuk melahirkan bayi yang tidak stunting.
Pemberian TTD pada remaja putri di sekolah menengah/sederajat merupakan program lintas sektoral antara dinas kesehatan, dengan dinas pendidikan dan dinas agama. Dinas kesehatan melalui puskesmas bertanggung jawab untuk mendistribusikan TTD pada sekolah. Keberhasilan program ini ditentukan oleh kepatuhan siswi untuk mengkonsumsi TTD sesuai dengan aturan minum yang ditetapkan.
Waktu yang diperlukan untuk menghabiskan seluruh paket TTD cukup panjang karena itu keberhasilan suplementasi TTD memerlukan kepatuhan dan komitmen yang kuat terutama dari remaja putri untuk mengkonsumsinya secara kontinu sesuai dengan aturan minum yang ditetapkan.
Saat ini komitmen tersebut belum muncul, tampak dari adanya kesenjangan antara indikator cakupan distribusi TTD pada remaja putri dan kepatuhan meminum TTD tersebut. Data riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa 71,65% remaja putri usia 10-19 tahun di Jawa Barat pernah mendapatkan TTD dalam 12 bulan terakhir dan sebagian besar dapat dari sekolah. Hasil tersebut hampir sama dengan hasil yang ditemukan oleh Tim Riset Jawa Barat (2022) pada siswi SMA di empat Kabupaten/Kota di Jawa Barat pada tahun 2022 yang menunjukkan bahwa hanya 15% yang meminum/menghabiskan TTD yang diterima. Data tersebut sejalan dengan data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Jawa Barat (2021) bahwa tingkat konsumsi TTD baru mencapai 16,7%.
Alasan tidak meminum TTD
Berdasarkan Riskesdas 2018 alasan utama utama remaja putri tidak meminum/menghabiskan TTD adalah lupa, rasa dan bau tidak enak, serta merasa tidak perlu. Data tersebut serupa dengan data yang ditemukan pada tahun 2022 oleh Tim Riset Jawa Barat di empat wilayah kabupaten/kota. Hasil studi kualitatif yang dilakukan pada remaja putri di SMP dan SMA wilayah Urban dan Rural di Jawa Barat memperlihatkan kondisi yang tidak jauh berbeda. Alasannya adalah merasa tidak perlu minum, tidak merasa anemi, dan tidak mendapat edukasi cukup mengenai anemia dan bahayanya.
Remaja putri juga mengemukakan kebingungannya mengenai status mereka apakah termasuk anemi atau tidak karena tidak ada pemeriksaan sebelumnya untuk menentukan hal tersebut. Saat ini TTD dilakukan dengan pendekatan blanket approach yaitu semua remaja putri diberikan TTD tanpa melihat apakah mereka anemia atau tidak. Pendekatan ini tampaknya harus dikaji ulang bila dilaksanakan tanpa disertai dengan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) memadai.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa orang tua memberikan dampak cukup besar terhadap keinginan dan kepatuhan remaja putri untuk minum TTD dan mencegah anemia. Dukungan orang tua membuat remaja putri mau minum TTD bahkan bersedia secara mandiri melakukannya tanpa perlu diingatkan, tetapi sebagian besar orang tua bersikap netral hanya bertanya apa yang didapatkan oleh anaknya, untuk apa namun tidak mengingatkan untuk meminumnya serta tidak menegur jika tidak diminum. Didapatkan juga orang tua yang melarang konsumsi TTD saat anaknya menyampaikan keluhan seperti mual. Remaja putri juga menyampaikan bahwa guru juga memberikan dampak cukup besar agar mereka mau patuh meminum TTD.
Dapat Cegah Anemia jika TTD dikonsumsi
Hasil penelitian tim dari Universitas Padjadjaran pada tahun 2022 di Jawa Barat menunjukkan adanya masalah dalam kepatuhan konsumsi TTD oleh remaja putri. Tingkat kepatuhan yang rendah ini tentu perlu mendapat perhatian. Eksplorasi lebih mendalam mengenai penyebabnya akan membantu untuk mencari solusi agar dana yang dikeluarkan untuk program tersebut tidak tersia-siakan. Anemia dapat dicegah jika memang TTD tersebut dikonsumsi tidak hanya sebatas terdistribusi. Penting untuk disepakati bahwa upaya pencegahan anemia pada remaja putri ini harus bisa diwujudkan dengan berbagai upaya pencegahan, tidak hanya sekedar mengandalkan TTD tetapi juga perubahan perilaku dan edukasi makanan bergizi seimbang sehingga pencegahan timbulnya stunting baru pada generasi selanjutnya akan dapat diwujudkan.

Penulis: Dr. Ginna Megawati,dr., M.Kes
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran





