Satirnya Kampanye WHO Pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia, “Kami Butuh Makan, Bukan Tembakau”
World No Tobacco Day Hari Tanpa Tembakau Sedunia Tahun 2023
Kanal-Kesehatan.com – Proses panjang pengolahan daun tembakau membuat salah satu petani tembakau asal Kenya bernama Alice Achieng Obare, memberikan pernyataan yang dikutip WHO/Badan Kesehatan Dunia sebagai berikut, “Bahkan jika Anda tidak merokok, Anda sudah menjadi perokok” hal ini adalah efek samping yang disebabkan oleh teknik pengeringan daun tembakau dengan (Fire Curing) atau pengasapan selain mengandalkan panas matahari.
“Bahkan jika Anda tidak merokok, Anda sudah menjadi perokok”
Alice Achieng Obare (Kenya)
Teknik pengasapan inilah yang Obare gunakan dinegaranya dan membuat Obare mengalami kondisi kesehatan yang buruk. Hasil tes x-ray atau rotgen paru-paru Obare dinyatakan mengalami kerusakan karena asap, kemudian Obare merasa “Saya tidak bisa membawa barang berat, dan saya tidak bisa berjalan jauh,” ujarnya.
Kisah petani tembakau ini, memang tidak serta merta merubah dunia mengalihkan pertanian tembakau, namun setidaknya memberikan gambaran nyata tentang sebuah kondisi, betapa banyak hal negatif dari menaman tembakau disamping manfaatnya.
Kontras ketika Obare menceritakan pengalamannya setelah beralih menjadi petani kacang, selain tidak terlalu berat proses pengerjaannya, Obare dapat melakukan kegiatan bisnis lainnya. Obare senang karena tidak melibatkan anak-anak lagi dan membuat anak-anak bisa melalukan aktivitasnya sendiri termasuk sekolah dan yang lebih penting lagi, Obare mengaku dengan menanam kacang dirinya tidak stress.
Upaya WHO Mengendalikan Tembakau
Jutaan hektar tanah di bumi ini digunakan manusia untuk menanam tembakau. Di dunia, negara terbesar penanam tembakau adalah Cina dengan luas lahan yang digunakan mencapai 1.104.553 hektar (data WHO)
Tembakau menjadi salah satu komoditas yang dibudidayakan juga oleh petani di Indonesia. Penghasil tembakau terbesar masih dirajai Provinsi Jawa Timur. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Timur mampu memproduksi 110,80 ribu ton pada tahun 2021. Artinya tembakau masih menjadi sumber cukai bagi negara.
Dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia Tahun 2023, WHO menyampaikan fakta kondisi pertanian tembakau didunia yang kemudian menampilkan banyak sekali hal negatif di balik pertumbuhan komoditas tembakau dunia.
WHO memang konsisten “perang” melawan tembakau sejak 2003 melalui Framework Convention on Tobacco Control/FCTC atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau yang merupakan perjanjian internasional. Perjanjian itu dirancang WHO untuk membentuk aturan global tentang pengendalian tembakau. FCTC tentu bertujuan untuk melindungi generasi dari dampak negatif tembakau diberbagai bidang, mulai dari kesehatan, ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Dampak negatif pengolahan tembakau memang berpengaruh bagi anak-anak, ibu hamil dan juga pekerja wanita yang masih disamakan beban kerjanya dengan buruh pria. Kondisi tumbuh kembang anak dipertanian tembakau yang menghirup asap tembakau selama proses pengeringan, juga menjadi perhatian. Jumlah nikotin yang diserap melalui kulit anak-anak yang sangat rentan menimbulkan penyakit.
Wanita hamil dipertanian tembakau juga menghadapi risiko keguguran yang lebih tinggi. Pekerja yang menggulung rokok akan terkena debu tembakau dan mengakibatkan penyakit pernapasan dan problem kesehatan lainnya. Hingga akhirnya WHO berani menyatakan bahwa Industri tembakau berupaya menyamarkan taktik pertanian tembakau dengan licik.
Selain Rokok, Tembakau Digunakan untuk Apa?
Mungkin sebagian negara di dunia ini, masih berfokus pada kegunaan tembakau hanya untuk rokok. Meski faktanya tembakau bisa dijadikan bahan baku bagi komoditi lainnya. Seorang ahli tembakau asal Indonesia, yaitu Dr. Ir. Josi Ali Arifandi, MS menyatakan bahwa tembakau sangat berpotensi sebagai pestisida, “Tembakau tidak selalu berkonotasi negatif sebagai penyebab kanker, tanaman tersebut dapat pula menghasilkan protein anti-kanker, yang berguna bagi penderita kanker sebagaimana temuan Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Arief Budi Witarto, M.Eng,” ungkap Dr Josi yang dikutip www.arsada.org
Apa manfaat tembakau selain untuk bahan baku rokok ? Berikut catatannya, yakni sebagai penangkal serangga dan obat mujarab untuk melepaskan gigitan lintah. Manfaat ini sudah sangat terkenal dikalangan penggiat alam bebas.
Tembakau juga manjur sebagai obat herbal salah satunya untuk menyembukan luka. Resep ramuan tumbukan daun tembakau yang dicampur degan minyak tanah kemudian diperas dan saring. Konon katanya dapat menyembuhkan luka. Selain manfaat-manfaat didunia kesehatan lain yang terus diteliti dan diujicoba.
Negara yang Berhasil Mengubah Fungsi Lahan Tembakau
Pendapatan yang dihasilkan ternyata lebih penting dari sekadar apa yang ditanam. Demikianlah adanya, hingga WHO dengan bangga dan bahagia menyampaikan kabar bahwa beberapa negara telah mengalihkan fungsi lahan tembakau mereka untuk menanam komoditi pangan yang hasilnya tak kalah menggiurkan.
Tercatat Filipina, Srilanka, Turki, Selandia Baru, Malaysia dan Indonesia disebut WHO telah membuktikan bahwa penghasilan menanam selain tembakau nyatanya juga wajib diperhitungkan. WHO mengabarkan bahwa sejumlah petani tembakau di Indonesia juga telah berhasil beralih ke tanaman alternatif seperti jambu mete, ubi jalar, jagung dan sayuran hijau yang meningkatkan keuntungan mereka.
Sebagai penegasan, WHO melalui Framework Convention on Tobacco Control/FCTC tidak bertujuan untuk menghukum petani tembakau dan pekerja. Upaya pengalihan lahan tembakau ini adalah untuk mempromosikan ekonomi alternatif yang layak untuk pekerja tembakau, petani dan penjual tembakau individu yang sedikit banyak akan berpengaruh pada pengurangan konsumsi tembakau khususnya rokok.
Semua itu untuk dunia yang lebih baik.
Gunakan tembakau dengan bijak untuk dunia yang lebih baik.
Selamat Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei 2023
Kampanye satir WHO ini, setidaknya membuka mata dunia.
“We Need Food, Not Tobacco”
Kami Butuh Makan, Bukan Tembakau
Penulis: Dasuciana
Sumber: www.who.int/healt-topics/tobacco





